Marching Band Melek Teknologi

REPOST: VERSI FULL BAHASA INDONESIA.
NB: Terima kasih Kak Ahmad Arianto untuk masukannya #TeamCancer. Semoga siapapun itu & dimanapun berada, bisa ikut memahami tulisan ini 🙂
 
——————————————————————————-
Setiap diberikan amanah & tanggung jawab untuk jadi juri di kompetisi marching band (entah lomba sederhana ataupun lomba regional) saya selalu bersemangat.
 
Tantangannya besar tapi pembelajarannya pun besar. Jadi juri, mengasah kemampuan untuk menggunakan sudut pandang penonton, menganalisa setiap indikator yang bisa “memperkaya” sebuah show & sebaliknya. Kita seringkali kita merasa program kita sudah bagus, padahal “masih terlalu hitam-putih (kurang berwarna)”. Dengan menjadi juri, otomatis saya bisa terus mengasah sudut pandang saya. Artinya ketika memproduksi show sendiri, insyaallah saya jadi memiliki berbagai sudut pandang yang berbeda-beda.
 
Ketika saya bawa band, saya merasa sangat terbantu dengan rekaman komentar juri yang saya dapatkan. Saya belajar banyak dari situ, dari komen-komen aktual yang mengevaluasi setiap detik-menit penampilan band saya. Bisa cek juga, mana konsep yang berhasil diwujudkan & mana yang tidak. Saya selalu senang dan sangat menghargai ketika ada juri yang tidak hanya mengkritik, tapi juga menceritakan kisah/makna/esensi apa yang berhasil disampaikan oleh band yang sedang tampil, apa yang dia rasa, apa yang dia dapat. Mbak Diana Sari Sadiyo Kak Sopuan Kak Andi Hassan & Kak Marko Sebira salah empat-nya 🙂 (plus kak Ahmad Arianto juga hehe)
 
Nggak cuma dikasih tahu yang harus diperbaiki, tapi saya juga jadi paham apa yang harus dipertahankan. Tentunya hal ini sangatlah penting. Saya rasa, itulah bagaimana seorang juri harusnya bekerja & berfungsi.
 
Ketika saya dipercaya untuk bertugas, saya mencoba untuk memberikan komentar melalui rekaman (voice record) bagi para peserta. Bukan untuk gaya-gayaan atau sok jago hehe. Aku mah apa atuh dibanding kakak2 seniorku. Hanya saja, saya merasa memiliki tanggung jawab atas perbaikan band yang sedang dinilai. Untuk itu, saya harus bisa mengkomunikasikan evaluasi secara detil dan aktual ketika peserta sedang tampil.
 
Menurut saya, setiap band yang ikut kompetisi (baik itu lomba display/konser/sectional di tingkat nasional atau tingkat kecamatan sekalipun) punya hak yang sama untuk mendapatkan komentar membangun dari juri supaya bisa berkembang. Semua punya hak yang sama untuk dibantu, seperti terbantunya saya ketika saya bawa band.
 
Dengan era digital seperti sekarang, nggak ada kata susah untuk bikin rekaman komentar juri. Cuma butuh smartphone yang ada aplikasi voice record, mic dari headset, dan whatsapp/email. Selesai lomba, rekaman bisa langsung didistribusikan ke pelatih/team manager via Whatsapp/Email. Dalam sekejap, semua beres. Cuma tinggal ada kemauan atau nggak dari sumber daya manusia yang terlibat termasuk panitia perlombaan, guna mendistribusikan rekaman komentar juri ke masing-masing peserta (apalagi sekarang sudah ada aplikasi gratis “Competition Suite” yang sudah digunakan di Winterguard International Indonesia Championship kemarin. Semua semakin mudah & semakin cepat).
 
Semua hal di atas mungkin terdengar idealis, tapi kan saya dibayar ngejuri untuk bermanfaat hehe. Terlebih, semua itu adalah solusi yang win-win kan?
 
Band peserta bisa lebih paham kurangnya dimana,
Juri bisa lebih komunikatif & evaluatif ke peserta,
dan panitia bisa punya event yang lebih berkelas bin berkualitas.
Kita harus gerak maju lebih cepat dan harus melek teknologi. Setuju?
 
Semoga pada akhirnya, hal ini menjadi perhatian bagi semua entitas yang terlibat dalam kompetisi marching band di Indonesia.
 
Perhatian bagi panitia bahwa kompetisilah yang bisa memicu perkembangan sebuah unit (bahkan pelatihnya). Jadi ayo bikin yang bagus & berkualitas 🙂
 
Perhatian bagi peserta bahwa setiap band berhak berkembang. Bukan cuma dilihat dari berapa banyak pialanya, berapa mewah shownya, tapi justru berapa banyak kemajuannya dari taun lalu. Siapa bilang band miskin nggak bisa bagus? Mungkin cuma kurang serius 😀
 
Perhatian bagi pelatih bahwa kita seringkali lupa membuka mata dan telinga, melihat serta mendengar. Seringkali kita menganggap bahwa “gelas kita sudah penuh” :p
 
Perhatian bagi juri, bahwa apa yang disampaikan harusnya mendorong sebuah unit untuk lebih baik. Lebih dari sekedar “Very Good” dan “Very Nice” 🙂
 
Yang setuju, boleh like postingan ini yaa hehehe.
 
Semoga musim 2018 akan lebih seru, lebih gokil, out of the box, dan lebih sukses. Amin.
 
Sincerely Yours,
Bayu Adhitama

Advertisements

– at Mozza Bistro ™ | All ‘Bout Cheese

View on Path

– at Hamad International Airport (DOH) (مطار حمد الدولي)

View on Path

– at Amsterdam Airport Schiphol (AMS) (Amsterdam Airport Schiphol)

View on Path

– at Designer Outlet Roermond

View on Path

View on Path

View on Path

– with Danar Gumilang, Ledi, Teddy Muslich, Tiara, Lovita, Edi, Suci, SYD 🌹, Kevin, MCS, Prisly, Rizki, Elmasda, Asran, Ufa, and Fx at Nona Manis Kemang Villages

View on Path

View on Path

Watching Wonder Woman

Watching Wonder Woman with Harlinda, Patricia, Mira, ilham, Fitri, Fazmi, Joddy, and rika at Botani XXI

View on Path